Sabtu, 08 November 2014

Dream House

Aku memimpikan sebuah rumah. Mengimajinasikan perasaanku saat berdiri di depannya. Di sebuah jalan, yang sepi namun masih terdengar kebisingan. Mungkin suara teriakan anak kecil berlarian. Mungkin suara truk dan klaksonnya, pertanda ketidaksabaran pengemudi yang terhalang sebuah kuda besi.
Kompleks perumahan dg diisi oleh kaum urban. Mengisi penuh hangatnya rumah mereka setiap hari sabtu saja. Atau justru sesempatnya. Mungkin di sebelah rumahku tinggal sepasang suami istri yang baru saja pensiun. Yang setiap akhir pekan cucu mereka datang. Yang setiap hari tersenyum berbagi sapa denganku, atau dengan kami. Entah siapa kami.
Entah siapa kami. Aku dan anakku kelak. Aku dan suami ku kelak. Atau aku dengan pikiranku sendiri kelak. Tergambar lebih nyata, rumah kami kelak. Dengan pagar putih yang renggang. Seperti yang sering ku tonton di film-film dono kasino indro. Seperti yang masih selalu aku lihat di rumah pak dhe di ujung utara rumah orang tuaku disana. Di situbondo. Atau mungkin seperti yang sering aku lihat di jalan-jalan menuju ijen boulevard, kota malang. Bukan ijen boulevardnya.
Rumah dengan halaman depan yang tak terlalu lebar tapi cukup untuk aku menata beberapa kaktus atau tanaman apapun yang meneduhkan mata. Yang cantik secara estetika. Yang membuat nyaman pandangan setiap tamu saat menungguku datang membukakan pintu. Cukup lah membuat mereka nyaman, tanpa perlu berlebihan membuat mereka harus memuji keapikannya.
Aku selalu menginginkan rumah dengan teras yang lebar. Yang lantainya bercorak kerikil batu kecil berwarna putih gading. Aku tak pernah tahu sebutannya. Tapi lantai seperti itu selalu aku injak setiap bulan syawal, di rumah kerabat ibu, Mbah Padma namanya.
Rumahku berpondasi tinggi, dengan teras yang lebar, dan di bawah pondasi rumah, menempel di sebelah kanan tembok rumah ku letakkan sepasang kursi taman lengkap dengan mejanya, yang kecil saja. Entah untuk apa, tapi aku mau ada sepasang disana.
Rumah berteras lebar itu adalah rumah induk. Hanya sebuah rumah yang tidak terlalu besar, dengan dua kamar tidur, yang satu dengan kamar mandi dalam, yang satunya tidak. Ruang tamu kecil saja. Cukup untuk aku menata sofa yang nyaman dan meletakkan sebuah buffet rendah yang berisikan foto-foto semua orang yang ku cintai. Dan satu lagi, sebuah lampu hias. Berikutnya yang tampak dari ruang tamu itu adalah sebuah jendela dengan teralis besi sederhana dimana ketika seorang tamu datang dan duduk di ruang itu, dia akan merasakan angin di tengkuknya, dan bisa melihat keluar rumah melalui jendela itu.
Di rumah induk itu akan ada sebuah sudut dengan rak buku yang tinggi, dengan kursi yang nyaman, dan sebuah jendela lebar dan rendah dimana aku bisa meletakkan mug dan buku yang aku baca, berjajar dengan gambar-gambar abstrak yang kelak akan kuminta orang-orang terdekatku untuk menggambarnya. Masih di rumah induk itu. Aku akan membeli sebuah mesin jahit canggih sehingga pada sebuah pagi yang teduh aku bisa menjahit hordeng, sarung bantal dan sprei untuk rumahku sendiri. Memadukan bahan, kancing, dan warna-warna yang serasi dengan rumahku dan musim saat itu. Ah, romantis.
Di bagian belakang rumah induk itu ada sebuah musholla semi terbuka. Saat mentari terik di waktu dhuhur, ruangan itu menjadi hangat. Saat hujan, aku bisa merasakan wangi air hujan menyentuh batu alam di ruangan itu. Saat subuh, sunyi dan dingin akan menggigit kulit tapi tetap membuat nyaman bertahan sampai matahari muncul dan sinarnya masuk melalui lubang-lubang kecil di salah satu sisi tembok ruangan itu.
Cukup. Seperti itu saja. Rumah induk.
Segala yang butuh ketenangan, bisa diciptakan dan ditemukan di rumah induk.
Ya, deskripsi rumah ini tak berhenti.
Paviliun aku menamainya. Bagian belakang rumah induk akan dihubungkan oleh sebuah ruang makan besar dengan meja kayu berisikan 8 kursi. atau cukup 6 kursi. Salah satu sisi ruang itu terbuka menghadap ke rumah induk. sedangkan sisi yang lain  menghadap ke tengah-tengah paviliun adalah pintu lipat yang bisa dibuka selebar-lebarnya.
Nantinya paviliun itu berbentuk L shape. Berurutan dari ruang makan penghubungnya dengan rumah induk adalah dapur lalu ruang keluarga. Sisi depan ruang keluarga ini adalah sebuah bingkai kaca besar yang dilapisi dengan tirai tebal dibaliknya. Mungkin akan kubuat seperti studio agar aku bisa bernyanyi sekerasnya tanpa mengganggu tetangga sebelah. Di ruangan ini akan bergeletakan album foto, CD film kesukaan, makanan kecil yang aku buat sendiri atau justru hanya keripik tidak sehat dan minuman bersoda yang dibeli di sebuah convenience store. Di ruangan ini aku akan menyaksikan beberapa anak kecil berebut acara kesukaan mereka. atau justru aku yang berebut dengan mereka. tidak tahu.
Ruang makan – dapur – ruang keluarga – kamar mandi – kamar tidur – kamar tidur lagi – kamar tidur lagi – lalu sebuah ruangan tempat menumpuk cucian. Bagian tengah paviliun itu adalah sebuah taman cukup lebar dengan rumput yang empuk, dan sebuah pohon mangga di sisi dekat pagar tinggi. aku juga akan menaruh satu ayunan besar dan meja kursi panjang. taman di tengah paviliun yang bisa dipakai untuk membuat acara barbeque sederhana bersama keluarga dan teman-teman terdekat.
Entah butuh lahan sebesar apa dan dana sebanyak apa untuk membuat rumahku ini nyata. Tapi, tak ada harapan yang tak mungkin dicapai. Apalagi rumah ini. mari kita bekerja dengan semangat dan menabung dengan cermat agar rumah ini bisa dilihat secepatnya. nyata, benar-benar ada dan aku tinggal di dalamnya.
selamat tidur dari kamar kos Surabaya. 00.29 dini hari, 9 November 2014.