Rabu, 30 Januari 2019

Menulis Tentang Rumah


Menulis tentang Rumah. Buat saya berarti menulis tentang usahanya, menatanya, dan masa depannya.

Kebetulan momentumnya juga sedang sangat baik – akhir bulan Januari. Karena, satu hari di bulan ini adalah hari pertama saya menempati rumah ini. Dan yaaaah, kenapa tidak saya tuliskan semua itu sekarang sebelum saya benar-benar lupa semua milestone yang saya lewati demi tempat tinggal mungil saya dan keluarga saat ini.

Selasa, 14 Maret 2017

Kenapa Harus Bersyukur

Surabaya, 15 Maret 2017

Kenapa harus bersyukur..
Karena keberadaan tubuh dan jiwa yang sehat, yang menemani mimpi-mimpi.

Atau lebih dari itu..
Rupanya tubuh dan jiwa yang hidup untuk kedirian ini, untuk semangat agar sampai di tempat yang aku sebut harapan, dan beberapa yang aku sebut mimpi.

Selasa, 22 November 2016

Untuk Rizal Zafikhal

Satu tahun yang lalu. 
Satu tahun yang lalu tepat di tanggal ini saya dan kamu bertemu secara fisik.  
22 November 2015.

Akhirnya saya akan menceritakan dg jujur awal mula kita mengenal kepada khalayak ramai. Karena ini kisah memori maka akan panjang saya bercerita sehingga saya merasa perlu untuk membagi kisah ini dalam beberapa bagian. 


AWAL PERKENALAN
Tidak pasti tepatnya.  Yang jelas pada saat itu saya sedang menjalankan studi saya di malang selama satu tahun pada fakultas sastra universitas negeri malang.  
Selama masa studi saya di sana, saya banyak mendapat teman baik. Namun sayang, hal itu tidak berlaku untuk kekasih. Sampai akhirnya, kesendirian itu membawa pada kisah selanjutnya. 

Saya lupa, apakah dulu saya yang minta dikenalkan dg lelaki baik kenalan kawan saya,  atau malah kawan saya yg menawarkan teman lelaki baiknya utk berkenalan dg saya.

Yang pasti, pada saat itu saya berada pada satu masa dimana fluktuasi hormon benar-benar kacau. 
Singkat,  saya dan kamu berkenalan melalui nomor handphone yg dipertukarkan.  

MOMEN MENUNGGU
2009 pertama kali saya dan kamu saling bertukar nomor handphone.  Sejak saat itu sesekali km mengirim sms tapi ya hanya hari itu saja.  Tidak pernah ada percakapan yg berlanjut dr hari ke hari. Saat itu km sungguh terlihat tidak tertarik pd saya. 
Yasudah.  

Cerita harus berlanjut dan 2010 saya pindah kampus ke surabaya dan menemukan hati yg lain selain milikmu. 
Saya bersenang senang menikmati kisah itu,  dan kamupun juga. 

Meskipun kamu meng-klaim bahwa sejak 2009 itu kamu sudah jatuh hati dan yakin akan bertemu saya, tapi tetap saja. Yang saya pahami tentang kamu selang 2009, 2010 hingga 2015 lalu adalah : 
Rizal Zafikhal : anak laki2 gak jelas yg selalu rajin ngelikes status facebook ku.  
Sudah. Sebatas itu saja. Ya,  bentuk komunikasi kita sebatas sms dan chat facebook demi tanya kabar.  

BERTEMU
24 Juli 2015. Kamu bilang tanggal itu bersejarah. Argumenmu adalah karena pada tanggal itu,  setelah hilang kontak cukup lama (karena nomorku hilang bersama dg hp mu yg terbakar)  kamu akhirnya memperoleh nomorku kembali via sosial media path. Kamu melihat,  hari itu saya mencantumkan nomor handphone saya pada kolom komentar di salah satu postingan saya. 
Sejak itu kamu kembali bisa menghubungi saya.  

Bagi saya,  tanggal bersejarah adalah tanggal dimana saya dan kamu akhirnya bertemu. Sejak 2009 kenal,  akhirnya 22 November 2015 menjadi hari pertemuan saya dan kamu.  

Hari itu saya tak berpikir macam macam.. 
Hari itu saya hanya berniat utk bertemu dg teman lama. Lama kenalnya,  tapi tak pernah ada pertemuan.  

Lalu pertemuan apa yg diharapkan dari seorang laki laki dan perempuan yg masih lajang seperti saya dan kamu ?

Tentu saja terasa aneh.  Demi menutupi rasa canggung dan secepatnya membunuh waktu,  maka fast food hoka hoka bento dan tiket menonton james bond : spectre adalah keputusan yg jenius.
  
Siang itu, pelan pelan saya dan kamu berbagi cerita..
Seksama saya memperhatikan gerak gerikmu, sikapmu,  cara bicaramu hingga sehelai rambut putih yg kelihatan jelas diantara rambut hitam yang lain (saya percaya pd asumsi bahwa orang yg cepat beruban berarti pintar.  Dan saya suka dg itu) 

Hari itu saya menilai kamu.  
Tidak ada yg kurang. 
Tidak ada yg kurang sampai hari ini tepat satu tahun sejak pertemuan kita.  
Sejak itu, saya dan kamu semakin dekat. 
Dari sekedar dekat,  lalu berbagi kasih. 
Dari sekedar berkasih,  lalu sepakat untuk membangun komitmen.  


Saya bahagia dengan kamu.  Tuhan sungguh murah hati.  Memberikan kamu untuk saya.  Lelaki baik yg lebih dari yg saya harapkan.  

Satu tahun.  Waktu yg relatif.  Bisa saja cepat bisa saja lambat.  Satu tahun saya bersama kamu,  saya menikmati kebersamaan ini.  Saya menikmati waktu-waktu saya,  baik saat dg kamu atau saat saya harus sendirian. 

Terima kasih untuk segala rasa rasa yang bersama kita bangun.  Bahagia,  sedih,  tawa,  tangis,  bangga dan bahkan kecewa.  

Tuhan telah memberikan yg terbaik. Momen 22 November 2016 ini saya berharap agar Tuhan selalu bermurah hati. Menjadikan saya dan kamu kekasih yg baik.
Mempersatukan kita dalam ikatan suci dan menjadikan kita pribadi yg tumbuh dewasa bersama sama,  sampai tua, sampai entah sejauh mana harmoni hari-hari kita dikaruniakan oleh Tuhan.  

Terima kasih sayang,  saya bahagia menemani kamu. 

Kamis, 31 Desember 2015

RESOLUSI 2016

Setengah tugas seorang pemimpin selesai apabila ia telah menentukan tujuan bagi organisasi atau tim yang dipimpinnya. Aku percaya hal itu. Dan karena aku sendiri adalah pemimpin bagi diriku, maka resolusi 2016 adalah salah satu bentuk menentukan tujuan bagi diri sendiri.
Sebelum mencatatkan resolusi 2016, aku akan mereview resolusi 2015.
ada 4.
1. Mahir berenang
Meskipun nggak mahir-mahir2 banget tapi paling tidak sudah mulai rutin ke kolam renang dan berhasil berenang dengan relax.
2. Punya tabungan.
Meskipun gak banyak tapi alhamdulillah ada dan bisa jadi cadangan penghidupan saat ada keadaan darurat. Semoga istiqomah.
3. Punya teddy bear sebesar atau lebih besar dari badanku.
tidak tercapai karena pembelian teddy bear yang besar akan merepotkan kalau masih tinggal sebagai anak kos.
4. Foto di UP Paiton.
Tercapai tepat satu minggu setelah ulang tahun ke 24.

Resolusi 2016 gak perlu banyak-banyak yang penting adalah memang sesuatu yang ingin diraih di tahun itu.
Lalu, 2016 ingin apa?

1. Punya rumah
2. Punya teddy bear yang sebesar badanku saat sudah punya rumah
3. Bisa nyetir mobil
4. Menjadi Brand Ambassador PJB yang akuntabel
5. Pekerjaan one day service excellent alias sehari jadi dan sempurna. 

Oke sudah itu saja dulu. Selamat menyambut tahun baru 2016 dari meja kerja Bidang Hubungan Investor lantai 1 Kantor Pusat PT Pembangkitan Jawa - Bali.
Semoga tercapai segala keinginan dan harapan.
Semoga diberikan semangat dan kesabaran untuk mencapai cita-cita, amin :")

Surabaya, 31 Desember 2015 - 15.28 WIB

Senin, 31 Agustus 2015

Cerita Lelah Sekian Hari

Pulang.
Memberi makan untuk hati. Entah ketahananku terhadap stress yang menurun atau memang badainya terlalu kuat.
Maka aku pulang.
24 tahun. 24 tahun dan aku baru menyadari bahwa hidupku - berantakan. Oh bukan. Caraku menjalankan hidup - yang berantakan.
Genap setahun bekerja. Mungkin mereka pikir aku baik-baik saja. Tak sedikit yang memberi selamat atas identitas baru yg aku sandang, dg cepat? 4 bulan sejak kelulusan. Relatif ku pikir. Ku syukuri dan kunikmati saja pujian orang.
Entahlah bagaimana menuturkannya. Sepertinya harus aku awali dg pemahaman umum bahwa : semua orang bermasalah.
Semua orang bermasalah. Dan aku, merasa dibodohi oleh kesalahan kecil yg selalu aku abaikan. Tidak menata caraku menjalankan hidup.
Ku pikir baik-baik saja hidup spontan dan bergantung pada keberuntungan.
Lalu pelan pelan.. Lamat lamat, aku menyadari ada yang salah.
Satu persatu hal yg aku lakukan terasa keliru. Kepercayaan terhadap aku - keseluruhan diri : tubuh pikiran tindakan hati, hilang.
Dan rupanya itu hilang pelan2. Rasanya seperti pegang botol minum yg bocor dan tidak disadari. Lalu tepat saat haus, airnya mau habis.
Yah! Kecewa.
Mungkin semua akan bilang kalau perpindahan  antara jiwa mahasiswa dan jiwa karyawan itu memang butuh waktu. Ya. Tapi satu tahun ini aku melihat banyak yg sudah matang dg start yang sama. Ya, setiap orang punya speed yg berbeda. Tapi masalahnya bukan mereka dg speednya. Tapi masalah ada pada aku, dan yg lebih parah, aku nggak tau apa yang salah. Sungguh itu nggak nyaman.
Lalu ketidaknyamanan itu mengantarku makin dekat pada sayu mata kekasihku. Kekasih yang selalu aku tinggalkan saat aku ingin mencapai sesuatu. Dan selalu aku renggut kembali dia saat aku butuh bahu dan matanya yang sayu. Tapi, hubungan kami buntu. Masalahnya satu : tak ada restu, bukan cuma dari orangtua tapi dari semua orang yg tahu kami bersama. Hubungan tidak sehat selama 4 tahun, ku akhiri juga. Kali ini tampaknya sungguhan.
24 tahun dan kami tidak membaik. 24 tahun dan sedikit lagi aku 25. Padahal kadang aku nggak sadar makna angka itu. Sering sekali melakukan hal tolol dan mengira bahwa aku baru 13-15 atau 19 tahun.
Tempat kerja dan kekasih. Dua hal yg menjadi pusat gravitasi. Dan dari situ aku mendapati kesulitanku. Tampaknya kata tempat kerja dan kata kekasih maknanya memang diperuntukkan bagi orang dewasa. Dua itu membawa sepaket rasa rasa. Bermacam, mengejutkan - tidak mengejutkan.
Tempat kerja dan kekasih seperti gerakan tangan yg diayun dengan percepatan positif dari haluan terjauh lengan menuju pipi terdekat dalam haluan itu. Ditampar.
Dan sakit dan baru sadar kalau ada yang salah.
Sampai minggu lalu aku masih melabeli diri dg kata depresi dan bahkan membulatkan niat utk konseling pada psikolog. Mencari tahu apa yang salah.
Kurang liburan? Tidak. Terbukti aku masih pusing setelah liburan menyenangkan di Malang.
Kurang bersyukur? Mungkin tidak mungkin iya.
Mungkin memang kurang musyawarah sama Yang Memberi Hidup.
Sepertinya memang terlalu melelahkan memutuskan segalanya sendiri.
Beberapa jam yang lalu aku masih di rumah. Kemarin aku sempatkan mengunjungi mbah uti dan mbah oyo yg semakin tua. Mbah Uti makin kurus. Mbah Oyo makin pikun. Pas mau pamit pulang, pas salim sama mbah Oyo yg sekarang lebih banyak tiduran, mbah tanya : rila sekolah kelas berapa? Sudah kerja, mbah. Oo kerja, dimana? Surabaya. Apa, kerja apa? PLN. Lalu no words aja gitu mbah senyum terus entah ada apa di mata beliau. Aku gak kuat dan cuma bisa bilang.. Mbah, Rila bawa roti itu mbah buat cemilan.
Dan di situ aku ingat. Seiring waktu satu tahun kerja. Aku datang dan cm bawa roti ke sana. Satu tahun bekerja dan saat itu aku ingat bahwa selama ini aku meleset terlalu jauh dari niat awal bekerja. Dan itu rupanya yang salah.
Dan itu yang aku rasakan menjadi penyebab sakit dan lemah selama ini. Dikit dikit males, dikit dikit gak semangat.
Pulang. Selalu memberi pelajaran yang mahal. Selalu jadi pengingat. Bahwa pulang adalah obat. Pulang adalah jawaban.
Maka jam ini aku sudah di Surabaya. Bersiap menata dan kembali ke rute awalku. Bismillah, semoga selalu ada kesabaran di hati dan kelapangan cara berpikir. Amin.
Mohon maaf curhat malam2, silahkan di-skip dan selamat tidur.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Dipta.



Laki laki yang membuat tidak bisa berhenti.
Dipta, sang pemimpi.
Dipta yang entahlah, apa yang ada pada dia dan membuat aku jatuh hati.
Selalu ku katakan, hanya pada dia aku merasa dicintai. Hanya pada dia aku merasa sungguh didengar. Hanya pada dia aku merasa nyata atas suatu yang fana.
Aku bilang aku sungguh didengar olehnya. Aku suka bercerita kepadanya. Sama seperti perempuan lain, aku pun tak ingin solusi. Aku sungguh hanya ingin didengar. Ah mungkin tak sesederhana itu.
Aku suka caranya menatapku bercerita. Pada lentik bulu matanya. Pada lembut pipinya. Pada rambut yang melingkari setengah telinganya. Pada bibir bulat yang dari sana aku dapatkan kecupan yang mendebarkan. Dan tentu saja, pada tatapan sayu yang entah mengapa kadang aku membencinya.
Tapi tatapan itu lah yang selalu berhasil menjadi obat penenangku. Ke dalam situ lah aku tenggelam. Sungguh dalam. Sungguh.
Kasih. Tak sekalipun aku berhasil mengambilnya kembali dari dia. Dipta, kekasihku. Kekasih yang hanya kepadanya aku merasakan kebodohan. Oh bagaimana mungkin di saat yang bersamaan otak ini mengingat segala hal yang bisa menjadi alasan kuat aku meninggalkannya, namun justru tubuhku makin erat mendekapnya.
Kasih. Aku mengasihinya. Dengarkah kau Dipta, sungguh aku mengasihi kamu.
Bahkan di saat kamu sedang membangun kebencian yang teramat sangat terhadapku. Bahkan di saat aku mulai menyadari bahwa sejak awal sebenarnya kamu tak sungguh-sungguh mendengarkan aku.
Ya, Dipta. Kamu adalah lelaki yang membuat tidak bisa berhenti.
Maka seperti candu itu lah yang memaksa tubuhku menjauhimu. kuhentikan ketergantunganku pada rasa aman saling berkabar dengan kamu. Ku hentikan teduh matamu menatapku. Ku hentikan lirih suaramu merasuki liang telingaku yang kerap entah mengapa ; membuat perutku tiba tiba geli oleh cairan atau entahlah. 
Dan seperti pecandu kebanyakan. Aku berhenti dari kamu, dan aku sakit. Sekali. 
12/8/2015

Kamis, 01 Januari 2015

Butuh Liburan

Kadang pikiran memang suka mengajak kepada hal yang aneh. Aku suka pekerjaanku sekarang. Aku mensyukuri apa yang aku dapat sekarang. Bahkan kadang masih tidak percaya bisa bekerja selang 4 bulan lulus kuliah.
Tapi seperti biasa, manusia punya rasa bosan. Dan inilah salah satu jenis percakapan yang terjadi ketika aku bosan dan butuh liburan bersama teman teman.