Hari ini kuliah teori komunikasi materinya membahas mengenai hal yang lagi booming dikalangan remaja dan manusia fase peralihan dari remaja menuju dewasa. Hehehee..
Materi dalam pertemuan ke-6 ini judul babnya adalah "The communicator" tapi yang mau aku jelaskan disini adalah sub-bab "Concistency Theory". Sedikit pembuka aja, Concistency Theory muncul dari suatu premis bahwa pada dasarnya manusia merasa nyaman berada dalam situasi yang konsisten. Dalam Concistency Theory sendiri ada dua sudut pandang :
1) Leon Festinger : Theory of Cognitive Dissonance
2) Milton Rokeach : Theory of Beliefs, Attitudes, and Values
Yang akan aku jelaskan adalah sudut pandangnya Leon Festinger. Menurutku, sudut pandang ini menarik karena setelah aku baca teorinya si Festinger ini -di textbook Little John yang notabene berbahasa inggris dan butuh waktu sehari semalem untuk mudeng dan khatam mbacanya- dia membahas mengenai fenomena yang lagi in dikalangan mahasiswa-mahasiswa kayak aku ini. Jadi, inti teori kognitif disonansi adalah KEGALAUAN. Seriously, teori ini membahas dengan rinci soal galau bergalau. Sayangnya, si Festinger nggak kenal kata GALAU sehingga, kata galau disini digantikan oleh satu kata yang sebelumnya gak pernah aku denger, DISONANSI. keren yah?! hahahahahaa... Kunci dalam membaca materi ini adalah, mengganti kata DISONANSI menjadi GALAU dan berbagai bentuk variasinya.
---------------
Concistency Theory – Theory of Cognitive Dissonance
Concistency Theory – Theory of Cognitive Dissonance
• Seluruh teori konsistensi berasal dari satu premis yang sama yaitu kenyataan bahwa orang merasa lebih nyaman dengan situasi yang konsisten.
• Kemudian, konsistensi menjadi prinsip utama dalam proses kognitif dan perubahan sikap bisa dihasilkan dari informasi yang mengacaukan keseimbangan ini.
• Dalam istilah cybernetics, orang mencari kondisi homeostasis, atau keseimbangan, dan kognitif sistem merupakan alat utama yang diterima oleh keseimbangan ini.
• Terdapat dua teori kognitif konsistensi, yaitu yang pertama Leon Festinger’s theory of cognitive dan yang kedua Milton Rokeach’s theory of beliefs, attitudes, and values.
• Teori ini merupakan teori yang penting dalam sejarah psikologi sosial, dikembangkan oleh Leon Festinger
• Festinger membayangkan bahwa setiap komunikator selalu membawa berbagai macam elemen kognitif seperti attitudes (sikap), perceptions (persepsi), knowledges (pengetahuan), dan behaviors (tindakan)
• Elemen-elemen ini berhubungan satu sama lain dalam sebuah sistem, dan tiap elemen dari sistem akan memiliki salah satu dari ketiga jenis hubungan antar elemen
• Tiga jenis hubungan tersebut yaitu:
1. Hubungan irrelevant,
2. Hubungan konsisten atau konsonan,
3. Hubungan inconsisten atau disonans
1. Hubungan irrelevant, dimana satu elemen tidak mempengaruhi elemen yang lain. contoh : ketika persepsi kita, kita tidak peduli terhadap kesehatan sehingga dalam elemen tindakan (behavior) kita merokok. Hal ini tidak akan menimbulkan disonansi dalam diri kita
2. Konsisten atau konsonan. Ketika satu elemen menekan atau mendukung elemen yang lain. contoh : ketika persepsi kita mengenai pentingnya kesehatan itu sangat tinggi serta knowledge (pengetahuan) kita terhadap bahaya merokok juga tinggi, maka , hal ini akan menimbulkan behavior (tindakan) kita untuk tidak merokok
3. Inconsistence atau disonans. Disonansi muncul ketika satu elemen tidak mengikuti arus dari elemen lainnya. Contoh : dalam persepsinya, seseorang mengatakan bahwa merokok tidak baik bagi kesehatan, namun disamping itu, ia juga tidak mampu menghentikan keinginannya untuk merokok
• 2 premis yang sangat penting dalam disonansi
– Disonansi dapat menciptakan tekanan untuk berubah
– Kita mengurangi dan menjauhi disonansi, serta menghindari situasi yang dapat menimbulkan disonansi
• Semakin besar disonansi, semakin besar pula keinginan untuk mengurangi disonansi tersebut
• Festinger menggambarkan lima metode untuk mengatasi kognitif disonansi:
– Merubah satu atau dua elemen kognitif
– Penambahan elemen baru pada satu sisi elemen kognitif
– Melihat elemen disonansi sebagai hal yang tak lagi penting
– Mencari informasi yang mendukung mengenai elemen yang membuat kita disonansi
– Melakukan pembenaran atas informasi yang muncul
• Disonansi dapat muncul dalam berbagai situasi seperti dalam pengambilan keputusan, usaha, dukungan sosial, mematuhi aturan dan inisiasi
• Postdecisional dissonance : penyesalan yang timbul setelah pengambilan keputusan. Jumlah disonansi yang dialami sebagai hasil dari suatu keputusan tergantung pada 4 variabel
• 4 variabel :
– Tingkat kepentingan keputusan. Contoh : keputusan untuk tidak sarapan dianggap kurang penting sedangkan keputusan untuk membeli mobil atau tidak akan menimbulkan disonansi yang besar
– Daya tarik alternatif yang dipilih. Contoh : kita akan mengalami disonansi yang tinggi saat harus memilih untuk membeli mobil yang biasa saja, atau mobil yang bagus
– Semakin besar kita memikirkan daya tarik dari alternatif yang tidak dipilih, maka semakin besar disonansi. Contoh : kita memutuskan membeli mobil bagus. Namun, kita memikirkan daya tarik dari membeli mobil yang biasa saja, yaitu kelebihan uang yang dapat digunakan untuk membeli benda-benda lain yang juga menarik.
– Semakin besar derajat kesamaan antara alternatif, maka akan lebih kecil disonansi. Contoh : alternatif antara pilihan jenis mobil yang akan dibeli tidak akan menimbulkan disonansi sebesar jika kita dihadapkan pada alternatif berupa membeli mobil atau jalan-jalan ke Eropa
Sedikit pencerahan buat galauers, semoga bermanfaat. Hahahhaa
