Selasa, 25 Oktober 2011

Teori Komunikasi

Hari ini kuliah teori komunikasi materinya membahas mengenai hal yang lagi booming dikalangan remaja dan manusia fase peralihan dari remaja menuju dewasa. Hehehee..

Materi dalam pertemuan ke-6 ini judul babnya adalah "The communicator" tapi yang mau aku jelaskan disini adalah sub-bab "Concistency Theory". Sedikit pembuka aja, Concistency Theory muncul dari suatu premis bahwa pada dasarnya manusia merasa nyaman berada dalam situasi yang konsisten. Dalam Concistency Theory sendiri ada dua sudut pandang :
1) Leon Festinger : Theory of Cognitive Dissonance
2) Milton Rokeach : Theory of Beliefs, Attitudes, and Values

Yang akan aku jelaskan adalah sudut pandangnya Leon Festinger. Menurutku, sudut pandang ini menarik karena setelah aku baca teorinya si Festinger ini -di textbook Little John yang notabene berbahasa inggris dan butuh waktu sehari semalem untuk mudeng dan khatam mbacanya- dia membahas mengenai fenomena yang lagi in dikalangan mahasiswa-mahasiswa kayak aku ini. Jadi, inti teori kognitif disonansi adalah KEGALAUAN. Seriously, teori ini membahas dengan rinci soal galau bergalau. Sayangnya, si Festinger nggak kenal kata GALAU sehingga, kata galau disini digantikan oleh satu kata yang sebelumnya gak pernah aku denger, DISONANSI. keren yah?! hahahahahaa... Kunci dalam membaca materi ini adalah, mengganti kata DISONANSI menjadi GALAU dan berbagai bentuk variasinya. 
well, ini dia materinya. *aku copast dari power point yang setengah jam lalu baru selesai :D
---------------

Concistency Theory – Theory of Cognitive Dissonance


•      Seluruh teori konsistensi berasal dari  satu premis yang sama yaitu kenyataan bahwa orang merasa lebih nyaman dengan situasi yang konsisten.

•      Kemudian, konsistensi menjadi prinsip utama dalam proses kognitif dan perubahan sikap bisa dihasilkan dari informasi yang mengacaukan keseimbangan ini. 

•      Dalam istilah cybernetics, orang mencari kondisi homeostasis, atau keseimbangan, dan kognitif sistem merupakan alat utama yang diterima oleh keseimbangan ini.

•      Terdapat dua teori kognitif konsistensi, yaitu yang pertama Leon Festinger’s theory of cognitive dan yang kedua Milton Rokeach’s theory of beliefs, attitudes, and values.

•      Teori ini merupakan teori yang penting dalam sejarah psikologi sosial, dikembangkan oleh Leon Festinger

•      Festinger membayangkan bahwa setiap komunikator selalu membawa berbagai macam elemen kognitif seperti attitudes (sikap), perceptions (persepsi), knowledges (pengetahuan), dan behaviors (tindakan)

•      Elemen-elemen ini berhubungan satu sama lain dalam sebuah sistem, dan tiap elemen dari sistem akan memiliki salah satu dari ketiga jenis hubungan antar elemen

•      Tiga jenis hubungan tersebut yaitu:
1. Hubungan irrelevant,
2. Hubungan konsisten atau konsonan,
3. Hubungan inconsisten atau disonans

1. Hubungan irrelevant, dimana  satu elemen tidak mempengaruhi elemen yang lain. contoh : ketika  persepsi kita, kita tidak peduli terhadap kesehatan sehingga dalam elemen tindakan (behavior) kita merokok. Hal ini tidak akan menimbulkan disonansi dalam diri kita
2. Konsisten atau konsonan. Ketika satu elemen menekan atau mendukung elemen yang lain. contoh : ketika persepsi kita mengenai pentingnya kesehatan itu sangat tinggi serta knowledge (pengetahuan) kita terhadap bahaya merokok juga tinggi, maka , hal ini akan menimbulkan behavior (tindakan) kita untuk tidak merokok
3. Inconsistence atau disonans. Disonansi muncul ketika satu elemen tidak mengikuti arus dari elemen lainnya. Contoh : dalam persepsinya, seseorang mengatakan bahwa merokok tidak baik bagi kesehatan, namun disamping itu, ia juga tidak mampu menghentikan keinginannya untuk merokok

•      2 premis yang sangat penting dalam disonansi
–      Disonansi dapat menciptakan tekanan untuk berubah
–     Kita mengurangi dan menjauhi disonansi, serta menghindari situasi yang dapat menimbulkan disonansi

•      Semakin besar disonansi, semakin besar pula keinginan untuk mengurangi disonansi tersebut

•      Festinger menggambarkan lima metode untuk mengatasi kognitif disonansi:
–     Merubah satu atau dua elemen kognitif
–     Penambahan elemen baru pada satu sisi elemen kognitif
–     Melihat elemen disonansi sebagai hal yang tak lagi penting
–     Mencari informasi yang mendukung mengenai elemen yang membuat kita disonansi
–     Melakukan pembenaran atas informasi yang muncul

•      Disonansi dapat muncul dalam berbagai situasi seperti dalam pengambilan keputusan, usaha, dukungan sosial, mematuhi aturan dan inisiasi

•      Postdecisional dissonance : penyesalan yang timbul setelah pengambilan keputusan. Jumlah disonansi yang dialami sebagai hasil dari suatu keputusan tergantung pada 4 variabel

•      4 variabel :
–     Tingkat kepentingan keputusan. Contoh : keputusan untuk tidak sarapan dianggap kurang penting sedangkan keputusan untuk membeli mobil atau tidak akan menimbulkan disonansi yang besar
–     Daya tarik alternatif yang dipilih. Contoh : kita akan mengalami disonansi yang tinggi saat harus memilih untuk membeli mobil yang biasa saja, atau mobil yang bagus
–     Semakin besar kita memikirkan daya tarik dari alternatif yang tidak dipilih, maka semakin besar disonansi. Contoh : kita memutuskan membeli mobil bagus. Namun, kita memikirkan daya tarik dari membeli mobil yang biasa saja, yaitu kelebihan uang yang dapat digunakan untuk membeli benda-benda lain yang juga menarik.
–     Semakin besar derajat kesamaan antara alternatif, maka akan lebih kecil disonansi. Contoh : alternatif antara pilihan jenis mobil yang akan dibeli tidak akan menimbulkan disonansi sebesar jika kita dihadapkan pada alternatif berupa membeli mobil atau jalan-jalan ke Eropa

Sedikit pencerahan buat galauers, semoga bermanfaat. Hahahhaa

Minggu, 23 Oktober 2011

Dasar Jurnalistik #3


Dasar Jurnalistik : Menulis Softnews melalui Wawancara dengan Pekerja Sektor Informal

Memarkir Cita-Cita Para Penjaga Parkir
Keterbatasan tampaknya benar-benar menjadi penghalang bagi sebagian orang. Keterbatasan dalam mengenyam bangku pendidikan misalnya, seseorang terkadang harus rela mengiklaskan cita-citanya di masa kecil terkubur begitu saja karena ketidakmampuannya melanjutkan pendidikan. Tanpa bermaksud menjadikan pendidikan formal sebagai kunci utama seseorang untuk menggapai cita-citanya, namun, pendidikan tetaplah penting untuk mengantarkan individu ke dalam dunia kerja yang dicita-citakan.
Ali, seorang penjaga area parkir di sebuah minimarket di Surabaya contohnya. Pemuda berusia 28 tahun ini ketika kecil bercita-cita menjadi seorang polisi. Namun, keterbatasan biaya membuat dirinya harus mencukupkan pendidikannya hingga tingkat SMA. Ditemui disela-sela waktunya menjaga parkir, Ali bercerita bahwa setelah lulus SMA dirinya bekerja di sebuah pabrik mebel di Surabaya. “Lulus SMA saya langsung ikut kerja di pabrik mebel mbak, ada dua tahunan abis gitu pindah lagi ikut di percetakan. Di percetakan ndak lama-lama, saya ganti jaga parkir disini,” tutur Ali.
Bekerja sebagai penjaga parkir menjadi salah satu upaya Ali untuk membantu kebutuhan orang tuanya dan menyekolahkan adiknya yang saat ini duduk di bangku SMP. Dengan pendapatan rata-rata sehari sebesar Rp35.000,00 Ali merasa bersyukur karena dari pendapatan itulah dirinya dapat menyambung hidup. Kegiatan menjaga parkir telah ia jalani selama kurang lebih tiga tahun. Setiap hari sekitar pukul 9 pagi dirinya telah berada di depan minimarket yang berlokasi di jalan Srikana, Kelurahan Airlangga, Surabaya, dan baru kembali ke rumah pada pukul 10 malam. Terhitung Ali bekerja selama 12 jam, namun demikian, dirinya mengaku menikmati pekerjaannya ini karena tidak ada atasan yang memerintah serta tidak ada jadwal yang mengikat. “Kalo kerja gini lebih enak mbak dari pada ikut orang, disuruh suruh. Meskipun lama, terus bosen tapi ya santai,” pungkasnya.
Ketika ditanyakan mengenai cita-citanya sebagai seorang polisi, Ali menuturkan bahwa ketika dirinya baru lulus SMA Ali masih saja terbayang bayang mimpinya untuk menjadi polisi. Sempat pula mengikuti tes masuk, namun gagal sehingga dirinya memutuskan untuk melupakan cita-citanya dan beralih mencari pekerjaan. “Ya namanya hidup mbak, harus terus jalan. Cari kerjaan kan buat bantu orang tua juga. Sekarang biar adek saya aja yang sekolah, yaa syukur-syukur kalo bisa kuliah juga, ya,” terang pria yang diketahui berasal dari Bangkalan, Madura.
Tak jauh berbeda dengan Ali, Silvi, seorang penjaga parkir dari sebuah perusahaan jasa parkir profesional juga merasakan hal yang sama. Keinginannya untuk kuliah dan bekerja sebagai pegawai Bank perlahan tampaknya mulai memudar. Sejak dirinya lulus SMA dua tahun yang lalu, orang tua Silvi tak mampu membiayai putrinya untuk mengenyam bangku kuliah. “bapak kerja serabutan mbak, ibu ya cuma jualan. Kepengen sih kuliah, tapi nggak ada biaya,” aku Silvi.
Dituturkan oleh Silvi, awal ketika lulus SMA, dirinya tidak langsung bekerja. Sekitar enam bulan menganggur, akhirnya Silvi memutuskan untuk bekerja di pabrik kayu. Tak bertahan lama, dirinya lalu mengundurkan diri dan bekerja sebagai penjaga parkir. “Ya enak mbak jaga parkir, kerjanya ya cuma gini, nyatet mobil masuk. Paling ya kerasa bosen,“ tuturnya.
Dalam beberapa hal Silvi lebih beruntung jika dibandingkan dengan Ali. Sama-sama berprofesi sebagai penjaga parkir, namun sistem kerja mereka berbeda. Silvi yang bekerja dibawah naungan sebuah perusahaan mendapatkan upah sesuai UMR kota Surabaya, yakni Rp1.150.000,00 . disamping itu, jam kerja Silvi lebih terjadwal, yaitu 8 jam sehari. Ali sendiri yang bekerja selama 12 jam dalam satu hari rata-rata mendapatkan Rp35.000,00 sehingga pendapatannya sebulan berkisar Rp1.050.000,00. Tidak banyak perbedaan dari segi rupiah yang diterima, namun jam kerja yang harus ditempuh adalah 4 jam lebih lama.
Pekerjaan sebagai penjaga parkir tampaknya menjadi alternatif bagi Ali dan Silvi. Meskipun latar belakang pendidikan mereka tidak mampu membawa mereka pada pekerjaan yang mereka cita-citakan , namun mereka berusaha untuk tidak menganggur dan berpangku tangan. Orang-orang dengan semangat dan kemauan bekerja yang tinggi inilah kiranya yang membuat tingkat pengangguran di wilayah Jawa Timur menurun dari tahun ke tahun. Menurut catatan Badan Pusat Statistik Surabaya, jumlah pengangguran di Jawa Timur pada tahun 2009 sejumlah 1.033.512 orang, menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, 2008 yang mencapai angka 1.296.313 orang.

Sumber data : BPS Propinsi Jawa Timur, Sakernas dan Susenas tahun 2005-2009

Dasar Jurnalistik #2

Belajar memodifikasi Lead berita. Kalo ada yang belum tau lead itu apa, aku kasih sedikit penjelasan.

Lead adalah alinea pembuka dari suatu berita. Lead sendiri harus mengandung unsur 5W + 1 H, namun yang lebih penting, bahasa dalam lead harus dibuat menarik serta mengandung pokok berita dan menggambarkan angle penulisan berita. Lead boleh terdiri dari 1 kalimat saja, tapi usahakan tidak melebihi tiga kalimat.

Nah, sekarang ayo kita lihat sama2 contoh berita dengan tiga modifikasi lead sesuai pesanan dosen yang harus aku kumpulkan besok pagi.


Kasus kejahatan di jalanan kembali terjadi. Kali ini menimpa vokalis grup band Vierra, Widy Soediro Nichlany yang mengalami penculikan pada tanggal 6 Juli 2011, Rabu dini hari. Peristiwa yang terjadi tiga bulan yang lalu tersebut tampaknya belum menemukan titik terang ke arah penyelesaian.

Widy Soediro Nichlany, vokalis grup band Vierra yang tiga bulan lalu mengalami penculikan saat akan pulang dari sebuah café di daerah Kemang, tampaknya masih perlu menunggu perihal kelanjutan kasusnya. Peristiwa yang terjadi pada Rabu dini hari tanggal 6 Juli 2011 ini belum juga mencapai proses penyelidikan lanjutan yaitu penangkapan tersangka. 

Lamban. Satu kata itulah yang kiranya dapat mengungkapkan kinerja kepolisian dalam menangani kasus penculikan yang dialami oleh Widi Soediro Nichlani, vokalis grup band Vierra. Kepolisian belum juga menangkap para pelaku kasus penculikan yang terjadi pada tanggal 6 Juli 2011 ini.

Sejak dilaporkannya kasus ini kepada pihak kepolisian, proses penyelidikan tampaknya mengalami kebuntuan. Setelah polisi dapat mengidentifikasikan ciri-ciri mobil Honda hitam yang membawa Widi, polisi belum juga melakukan pemeriksaan terhadap pemilik mobil tersebut. Padahal, bukti berupa stiker di mobil pelaku harusnya telah dapat memberikan gambaran kepada pihak kepolisian untuk menyimpulkan dan menangkap pelaku penculikan tersebut. "Ada stiker di mobil tersebut yang bisa mengggambarakan dan bisa mempersempit proses penyidikan. Seharusnya penyidik sudah bisa menyimpulkan pelaku," ungkap Minola kepada wartawan berita online, Yahoo! OMG.
 
Saat ditanyakan mengenai kelanjutan kasus penculikan tersebut, Minola yang dihubungi via telepon menuturkan bahwa pihaknya telah menanyakan kelanjutan kasus ini pada pihak kepolisian. "Satu bulan lalu kami menanyakan perihal kelanjutan proses penyidikan terhadap laporan peristiwa hukum yang dialami oleh Widi karena dari kacamata kami sebenarnya sudah banyak petunjuk dan alat bukti yang kita serahkan kepada kepolisian," terangnya.

Meskipun Minola merasa sedikit kecewa terhadap kinerja kepolisian, namun dirinya mengaku optimis bahwa kasus ini dapat terselesaikan. Hingga saat ini, pengacara Widi ini masih belum berinisiatif untuk melayangkan surat kepada kepolisian untuk mempertanyakan kelanjutan penyelidikan. Dalam tahap ini, Minola memilih untuk menunggu proses penyelidikan oleh kepolisian. “Kami tetap memiliki keyakinan dan percaya penyidik sampai hari ini tetap melakukan upaya dan kerja keras,” tandasnya. Lebih lanjut, pihaknya tidak ingin terkesan melakukan intervensi terhadap kinerja kepolisian terkait kasus yang ditanganinya.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, kronologis kejadian bermula ketika Widi menunggu taksi di depan sebuah café di Kemang, tiba-tiba sebuah mobil Honda hitam tidak dikenal mengikutinya. Minola Sebayang, kuasa hukum Widi, memaparkan kepada media online okezone.com, "Tapi ternyata ada mobil yang mengikuti. Sempat manggil dan gangguin dia. Di suatu tempat gelap ada satu orang turun, tarik paksa Widi ke mobil. Ada tiga orang. Dua orang di depan dan satu di belakang. Widi enggak kenal sama ketiga orang itu," ujar Minola menjelaskan.



Lead-nya yang dicetak tebal. Penilaian ada pada dosen dasjur dan anda yang membaca postingan ini. Sudah layakkah saya menjadi penulis berita ?


Kamis, 20 Oktober 2011

Lihat, Dengar, Rasakan

Dia telah berdiri
Coba berlari
Tak pernah dia jelang
Hidup yang inginkan
Kilau hari-hari
Dan birunya langit
Terhapus rasa indah
Terpejam oleh lelah
Dalam lelahnya mata
Nikmat dunia menjelma
Sejenak dia berharap
Malam tanpa batas
Bunda s'lalu tanamkan
Jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan
Kelak syukur kau ucapkan pada diri Nya
Kumohonkan
Mudahkan hidupnya hiasi dengan belai Mu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentari Mu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

Jumat, 14 Oktober 2011

Malaikat Paling Nyata

kangen ibuk..
ceritanya, udah 3 hari ini aku sakit, dan gak bisa pulang.. juga gak bisa maksa ibuk buat jenguk ke surabaya.. Kasian, jauh soalnya.. hmm.. akhirnya, bongkar2 kumpulan tulisan2 di folder 'file-box' laptopku.. inget kalo aku pernah nulis notes kayak gini :

Malaikat yang paling nyata di hidupku
Seseorang yang lahir di 14 Februari, di tahun itu
Seseorang yang kuat dan ikhlas
Seseorang yang paling sering ku bohongi, tapi selalu memaafkan

Dia yang bener2 marah waktu tahu aku, kecintaannya, disakiti
Dia yang gak mau memberikan segalanya dengan mudah biar aku belajar mendapatkannya sendiri.. biar aku bisa tetap mendapatkan segalanya meskipun tanpa dia
Dia yang gak memuji waktu aku berprestasi, biar aku gak berhenti dalam kepuasan dan akhirnya jatuh dalam keterpurukan..
Dia yang bener2 berbahagia kalo aku bahagia, meskipun aku gak berada di sampingnya..

Maaf buat air mata yang mengalir sore kemarin,
Cuma air mata yang bisa aku kasih buat dia
Selalu air mata.. :(
Semua hal yang udah aku janjiin buat dia, semoga bisa kuwujudkan,,
Biar dia nangis lagi, biar air matanya keluar lagi..
Air mata bahagia..
Meskipun itu gak pernah cukup menghapus rasa penyesalanku atas airmatanya yang sering mengalir karena aku,,
Ibuk, aku selalu Cuma bisa nyesel setiap kali liat kamu nangis gara2 aku,, aku selalu Cuma bisa berusaha menjadi lebih baik setiap kali liat kamu nangis gara2 aku,, aku selalu Cuma bisa berdoa biar kamu gak nangis lagi gara2 sedih mikirin aku yang seperti ini..
Andaikan aku bisa, aku pengen ibuk gak pernah sedih trus  nangis gara2 aku..
Ibuk panjang umur ya, rla blm bisa buat ibuk nangis karena rasa bahagia dan bangga udah ngelahirin putri malas,bodoh, nglamak dan nakal seperti aku..
Semua yang ada dihidupku, buat ibuk..
Semua perjuanganku, buat ibuk..
Semua cinta kasih sayang tulus selamanya rla abdikan buat ibuk..
Ibuk, tetap kuat ya ngadepin aku, tetap sabar ya sayangin aku,,
Lofiu, my heroine..

Minggu, 09 Oktober 2011

Belajar Mewarnai


Nangis senangis nangisnya. Bukan karena siapapun. Bukan karena merasa capek menjalani drama dalam hidup ini dimana aku harus menyesuaikan diri dengan orang-orang itu, dan segala suasana yang aku sendiri kadang justru terdiam, gak bisa apa-apa.

Diam. Gak jauh berbeda dengan mengikuti arus. Padahal, diam itu mengerdilkan semua kredibilitas yang sudah terbangun. Diam itu menghilangkan semua kesempatan, semua harapan. Diam itu membawa pada kebodohan.

Hujan pertama setelah kemarau panjang, Surabaya. Rasanya sengaja dikirim Tuhan. Mungkin Tuhan mau nunjukin kalo air mata ini gak seberapa dengan semua air hujan di detik saat aku merangkaikan kata-kata ini untuk diceritakan. Dengan semua penderitaan orang-orang bodoh lain di luar sana. Mereka yang jauh lebih menderita karena kebodohonnya sendiri.
Terus aku? Aku nggak mau jadi bodoh lagi, Tuhan. Itu nyakitin. Waktu aku cuma bisa diam, terbawa arus, menikmati semua perasaan dan keadaan yang tampak indah dan menyenangkan tersaji dihadapan mata. Aku terlalu buta dan rakus waktu itu. Licik. Dan waktu semua itu tiba-tiba ditarik, hilang sama sekali, rasanya tubuh ini nggak punya daya apa pun. Rasanya nggak punya jiwa untuk menggerakkan semua sendi. Tatapan kosong, otak mati.Gak tau harus kemana. Merasa gak punya tempat untuk kembali.

Tertawa, nangis, marah, senyum. Semua perasaan senang, semua perasaan sedih yang gak bisa dilepas, tertahan di otak  dan direndam dalam campuran hormon-hormon yang selalu berubah dan mempengaruhi perasaanku setiap hari.

Aku mau tidur aja. Tunggu beberapa jam lagi, trus pas aku udah bangun, hujan udah berhenti. Ya, udah berhenti.

Sekali lagi, diam itu menghilangkan semua kesempatan, semua harapan. Dan itu terjadi pelan-pelan, tanpa kamu sadar.


Senin, 03 Oktober 2011

Communication is Irreversible

Apapun yang ada dikepalamu, terkurung dalam otakmu, gak perlu dikeluarin semua. gak perlu seisi dunia ato sebagian kecil dari duniamu itu tahu apa yang jalan dipikiranmu.

Aku sering banget ngerugiin orang gara-gara omonganku atau apapun yang keluar dari kepalaku. dan ujung-ujungnya aku rugi sendiri. Sakit sendiri. hmm

communication is irreversible. begitu pesan disampaikan oleh komunikator, pesan itu nggak akan pernah bisa ditarik kembali dan mengembalikan kondisi seperti semula persis sebelum si komunikator nyampein pesannya.



setelah merenung dan ngelamun agak lama, aku sadar. apapun yang di otak, terlebih yang di perasaan, ada waktunya sendiri-sendiri untuk di share ato dipublikasikan.

sesuatu yang menurutmu gak mungkin akan disadari orang lain, dan dengan percaya diri di share begitu saja di dunia ketiga ini ternyata justru membuat kamu merasa telah menghilangkan sesuatu atau.. hmm kayaknya paragraf ini gak perlu diteruskan.

atau mungkin lebih baik tulisan ini gak usah di entri.

merasa sangat anti-social.
yasudahlah, gak papa share disini. gak peduli gak peduli gak peduli gak peduliiiiiiiii. setidaknya gak ada orang yang secara langsung aku jadikan komunikan kalo aku curhat disini. paling juga orang iseng yang kebetulan googling trus ketemu link blog ini. hm, itupun kalo blog ini bisa keluar pas ada orang googling. wkwkwkwk

feel free!

rila anti social

Minggu, 02 Oktober 2011

Dasar Jurnalistik

Tugas Dasar Jurnalistik minggu ke-4
merangkum berita dari berbagai media massa

Oleh Syahrila Romadhani - 071015075


Serangan Bom Solo, Masalah Antaragama atau Sekedar Adu Domba

SOLO - Kota Solo tampak tak seperti biasa dan terjadi ketegangan setelah terjadi ledakan bom di salah satu gereja di kota tersebut. Bom yang meledak pada hari Minggu (25/9) di sebuah Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton , Solo tersebut merupakan bom bunuh diri yang pelakunya diduga terkait dengan jaringan bom Cirebon.
Pelaku yang diperkiran berusia 31 tahun tewas ditempat. Korban luka yang dilarikan kerumah sakit bejumlah 14 orang.
Peristiwa pengeboman ini terjadi ketika jamaat gereja hendak mengakhiri kebaktian. Pelaku awalnya berpura-pura sebagai anggota jamaat dan berusaha masuk kedalam gereja. Namun, karena tidak dapat menunjukkan kartu keanggotaan jemaat, usaha pelaku untuk masuk ke dalam gereja pun dihalangi oleh beberapa jemaat.
“beberapa saat kemudian bom meledak”, tutur Simon Rahardjo, anggota jemaat GBIS seperti yang dilansir dari Suara Karya (25/9).
Kejadian pengeboman ini tentu saja tak hanya mengusik pemerintah yang tengah berusaha untuk mengembalikan stabilitas keamanan Indonesia di mata dunia, namun hal ini juga tentu mengusik berbagai kalangan di bidang keagamaan karena rentan dengan isu-isu SARA.
Dalam Surabaya post dilansir dari kompas.com, Mustofa B Nahrawardaya, seorang pengamat dari Indonesian Crime Analyst Forum berpendapat bahwa bom bunuh diri tersebut merupakan upaya adu domba dan penyudutan terhadap satu kelompok agama oleh salah satu kelompok agama lain.
“Peledakan ini adalah upaya adu domba dan penyudutan terhadap kelompok tertentu, atau bahkan mengarah ke agama tertentu ke agama lain, dalam hal ini jemaat Kristen. Tujuannya agar terjadi pergesekan-pergesekan horizontal antar agama atau kelompok” tandasnya kepada kompas.com (25/9)
Kontras dengan pernyataan Mustofa B Nahrawardaya, Weinata Sairin-soeorang tokoh Protestan- menyatakan untuk tidak berburuk sangka terlebih dahulu mengenai peristiwa ini. Dalam artikel wawancaranya dengan harian Republika(26/9), Weinata menjelaskan bahwa akar permasalahan dari kejadian pemboman ini terlalu rumit untuk dirumuskan. Bom yang meledak dengan mengatasnamakan agama tentu saja mendatangkan ketakutan dan trauma tersendiri.
“Kalau akar masalahnya adalah hubungan antarumat beragama, tetapi harus dibayar dengan bom, saya rasa itu tidak sebanding. Itu harga yang terlalu mahal untuk dibayar. Atau, mungkin bomnya sudah terlalu murah? Inilah yang harus dicari secara cerdas pada tingkat keamanan”, ujar Wienanda. (bs/syr)


Sumber:
“SBY: Investigasi Aparat” Republika, Senin, 26 September 2011
 “Weinata Sairin Tokoh Protestan : Jangan Berburuk Sangka Dulu”, Republika, Senin, 26 September 2011
 “Bom Meledak, Wibawa Pemerintah SBY Goyah”, Surabaya Post, Senin, 26 September 2011

Sabtu, 01 Oktober 2011

1.00-minggu

pokerface-glee

she's got to love nobody..

not like the movie-Katy Perry

lagi emo ria di balkon sebuah penginapan lantai lima di Surabaya. aku gak tau lagi ngapain. dan gak ada feel buat cerita. 
badan disini, tapi pikiran di kosan dan tugas yang merongrong untuk digarap dan di print sebelum senin. 
for some reasons, aku badmood. 
capek, terjebak disuatu tempat bersama orang-orang yang tidak membuat rasa nyaman.
temen-temen di malang pada dateng efw. english fun weekend.
event yang menyebalkan buatku. ngapain seh kober banget dateng kesana.. 
haha.. gak dewasa banget sebel gara2 kejadian setahun lalu.
inget temen malang, inget sama satu orang yang lagi musuhin aku mati-matian. 

apa sih masalahnya? aku sendiri juga gak tau. yang jelas dia berlebihan. 
oke aku salah , keceplosan cerita ini itu soal dia. tapi aku bukan cerita masalah krusial tentang dia. kenapa harus jadi sebenci itu? kecuali dia tau kalo aku pernah macari pacarnya, baru dia boleh menghina aku kayak gitu. nusuk dari belakang, pengkhianat, cewek endel, hmm whatever lah..
udah bener2 kehilangan minat untuk baik-baikin dia lagi.

oh iya, ganti topik.
aku gak tau mau sebut kamu apa di tulisan ini. tapi aku penasaran sama kamu. sama duniamu. kayaknya pingin buka semua pintu yang menghalangi buat ngintip dan cari tahu kesitu.. tapi apa pantes? aku siapa.. hm.. belum berani sebut nama, inisial ato apapun..

happy early sunday morning, rila!

1.25-minggu