Setengah tugas seorang pemimpin selesai apabila ia telah menentukan tujuan bagi organisasi atau tim yang dipimpinnya. Aku percaya hal itu. Dan karena aku sendiri adalah pemimpin bagi diriku, maka resolusi 2016 adalah salah satu bentuk menentukan tujuan bagi diri sendiri.
Sebelum mencatatkan resolusi 2016, aku akan mereview resolusi 2015.
ada 4.
1. Mahir berenang
Meskipun nggak mahir-mahir2 banget tapi paling tidak sudah mulai rutin ke kolam renang dan berhasil berenang dengan relax.
2. Punya tabungan.
Meskipun gak banyak tapi alhamdulillah ada dan bisa jadi cadangan penghidupan saat ada keadaan darurat. Semoga istiqomah.
3. Punya teddy bear sebesar atau lebih besar dari badanku.
tidak tercapai karena pembelian teddy bear yang besar akan merepotkan kalau masih tinggal sebagai anak kos.
4. Foto di UP Paiton.
Tercapai tepat satu minggu setelah ulang tahun ke 24.
Resolusi 2016 gak perlu banyak-banyak yang penting adalah memang sesuatu yang ingin diraih di tahun itu.
Lalu, 2016 ingin apa?
1. Punya rumah
2. Punya teddy bear yang sebesar badanku saat sudah punya rumah
3. Bisa nyetir mobil
4. Menjadi Brand Ambassador PJB yang akuntabel
5. Pekerjaan one day service excellent alias sehari jadi dan sempurna.
Oke sudah itu saja dulu. Selamat menyambut tahun baru 2016 dari meja kerja Bidang Hubungan Investor lantai 1 Kantor Pusat PT Pembangkitan Jawa - Bali.
Semoga tercapai segala keinginan dan harapan.
Semoga diberikan semangat dan kesabaran untuk mencapai cita-cita, amin :")
Surabaya, 31 Desember 2015 - 15.28 WIB
Kamis, 31 Desember 2015
Senin, 31 Agustus 2015
Cerita Lelah Sekian Hari
Pulang.
Memberi makan untuk hati. Entah ketahananku terhadap stress yang menurun atau memang badainya terlalu kuat.
Maka aku pulang.
24 tahun. 24 tahun dan aku baru menyadari bahwa hidupku - berantakan. Oh bukan. Caraku menjalankan hidup - yang berantakan.
Genap setahun bekerja. Mungkin mereka pikir aku baik-baik saja. Tak sedikit yang memberi selamat atas identitas baru yg aku sandang, dg cepat? 4 bulan sejak kelulusan. Relatif ku pikir. Ku syukuri dan kunikmati saja pujian orang.
Entahlah bagaimana menuturkannya. Sepertinya harus aku awali dg pemahaman umum bahwa : semua orang bermasalah.
Semua orang bermasalah. Dan aku, merasa dibodohi oleh kesalahan kecil yg selalu aku abaikan. Tidak menata caraku menjalankan hidup.
Ku pikir baik-baik saja hidup spontan dan bergantung pada keberuntungan.
Lalu pelan pelan.. Lamat lamat, aku menyadari ada yang salah.
Satu persatu hal yg aku lakukan terasa keliru. Kepercayaan terhadap aku - keseluruhan diri : tubuh pikiran tindakan hati, hilang.
Dan rupanya itu hilang pelan2. Rasanya seperti pegang botol minum yg bocor dan tidak disadari. Lalu tepat saat haus, airnya mau habis.
Yah! Kecewa.
Mungkin semua akan bilang kalau perpindahan antara jiwa mahasiswa dan jiwa karyawan itu memang butuh waktu. Ya. Tapi satu tahun ini aku melihat banyak yg sudah matang dg start yang sama. Ya, setiap orang punya speed yg berbeda. Tapi masalahnya bukan mereka dg speednya. Tapi masalah ada pada aku, dan yg lebih parah, aku nggak tau apa yang salah. Sungguh itu nggak nyaman.
Lalu ketidaknyamanan itu mengantarku makin dekat pada sayu mata kekasihku. Kekasih yang selalu aku tinggalkan saat aku ingin mencapai sesuatu. Dan selalu aku renggut kembali dia saat aku butuh bahu dan matanya yang sayu. Tapi, hubungan kami buntu. Masalahnya satu : tak ada restu, bukan cuma dari orangtua tapi dari semua orang yg tahu kami bersama. Hubungan tidak sehat selama 4 tahun, ku akhiri juga. Kali ini tampaknya sungguhan.
24 tahun dan kami tidak membaik. 24 tahun dan sedikit lagi aku 25. Padahal kadang aku nggak sadar makna angka itu. Sering sekali melakukan hal tolol dan mengira bahwa aku baru 13-15 atau 19 tahun.
Tempat kerja dan kekasih. Dua hal yg menjadi pusat gravitasi. Dan dari situ aku mendapati kesulitanku. Tampaknya kata tempat kerja dan kata kekasih maknanya memang diperuntukkan bagi orang dewasa. Dua itu membawa sepaket rasa rasa. Bermacam, mengejutkan - tidak mengejutkan.
Tempat kerja dan kekasih seperti gerakan tangan yg diayun dengan percepatan positif dari haluan terjauh lengan menuju pipi terdekat dalam haluan itu. Ditampar.
Dan sakit dan baru sadar kalau ada yang salah.
Sampai minggu lalu aku masih melabeli diri dg kata depresi dan bahkan membulatkan niat utk konseling pada psikolog. Mencari tahu apa yang salah.
Kurang liburan? Tidak. Terbukti aku masih pusing setelah liburan menyenangkan di Malang.
Kurang bersyukur? Mungkin tidak mungkin iya.
Mungkin memang kurang musyawarah sama Yang Memberi Hidup.
Sepertinya memang terlalu melelahkan memutuskan segalanya sendiri.
Beberapa jam yang lalu aku masih di rumah. Kemarin aku sempatkan mengunjungi mbah uti dan mbah oyo yg semakin tua. Mbah Uti makin kurus. Mbah Oyo makin pikun. Pas mau pamit pulang, pas salim sama mbah Oyo yg sekarang lebih banyak tiduran, mbah tanya : rila sekolah kelas berapa? Sudah kerja, mbah. Oo kerja, dimana? Surabaya. Apa, kerja apa? PLN. Lalu no words aja gitu mbah senyum terus entah ada apa di mata beliau. Aku gak kuat dan cuma bisa bilang.. Mbah, Rila bawa roti itu mbah buat cemilan.
Dan di situ aku ingat. Seiring waktu satu tahun kerja. Aku datang dan cm bawa roti ke sana. Satu tahun bekerja dan saat itu aku ingat bahwa selama ini aku meleset terlalu jauh dari niat awal bekerja. Dan itu rupanya yang salah.
Dan itu yang aku rasakan menjadi penyebab sakit dan lemah selama ini. Dikit dikit males, dikit dikit gak semangat.
Pulang. Selalu memberi pelajaran yang mahal. Selalu jadi pengingat. Bahwa pulang adalah obat. Pulang adalah jawaban.
Maka jam ini aku sudah di Surabaya. Bersiap menata dan kembali ke rute awalku. Bismillah, semoga selalu ada kesabaran di hati dan kelapangan cara berpikir. Amin.
Mohon maaf curhat malam2, silahkan di-skip dan selamat tidur.
Memberi makan untuk hati. Entah ketahananku terhadap stress yang menurun atau memang badainya terlalu kuat.
Maka aku pulang.
24 tahun. 24 tahun dan aku baru menyadari bahwa hidupku - berantakan. Oh bukan. Caraku menjalankan hidup - yang berantakan.
Genap setahun bekerja. Mungkin mereka pikir aku baik-baik saja. Tak sedikit yang memberi selamat atas identitas baru yg aku sandang, dg cepat? 4 bulan sejak kelulusan. Relatif ku pikir. Ku syukuri dan kunikmati saja pujian orang.
Entahlah bagaimana menuturkannya. Sepertinya harus aku awali dg pemahaman umum bahwa : semua orang bermasalah.
Semua orang bermasalah. Dan aku, merasa dibodohi oleh kesalahan kecil yg selalu aku abaikan. Tidak menata caraku menjalankan hidup.
Ku pikir baik-baik saja hidup spontan dan bergantung pada keberuntungan.
Lalu pelan pelan.. Lamat lamat, aku menyadari ada yang salah.
Satu persatu hal yg aku lakukan terasa keliru. Kepercayaan terhadap aku - keseluruhan diri : tubuh pikiran tindakan hati, hilang.
Dan rupanya itu hilang pelan2. Rasanya seperti pegang botol minum yg bocor dan tidak disadari. Lalu tepat saat haus, airnya mau habis.
Yah! Kecewa.
Mungkin semua akan bilang kalau perpindahan antara jiwa mahasiswa dan jiwa karyawan itu memang butuh waktu. Ya. Tapi satu tahun ini aku melihat banyak yg sudah matang dg start yang sama. Ya, setiap orang punya speed yg berbeda. Tapi masalahnya bukan mereka dg speednya. Tapi masalah ada pada aku, dan yg lebih parah, aku nggak tau apa yang salah. Sungguh itu nggak nyaman.
Lalu ketidaknyamanan itu mengantarku makin dekat pada sayu mata kekasihku. Kekasih yang selalu aku tinggalkan saat aku ingin mencapai sesuatu. Dan selalu aku renggut kembali dia saat aku butuh bahu dan matanya yang sayu. Tapi, hubungan kami buntu. Masalahnya satu : tak ada restu, bukan cuma dari orangtua tapi dari semua orang yg tahu kami bersama. Hubungan tidak sehat selama 4 tahun, ku akhiri juga. Kali ini tampaknya sungguhan.
24 tahun dan kami tidak membaik. 24 tahun dan sedikit lagi aku 25. Padahal kadang aku nggak sadar makna angka itu. Sering sekali melakukan hal tolol dan mengira bahwa aku baru 13-15 atau 19 tahun.
Tempat kerja dan kekasih. Dua hal yg menjadi pusat gravitasi. Dan dari situ aku mendapati kesulitanku. Tampaknya kata tempat kerja dan kata kekasih maknanya memang diperuntukkan bagi orang dewasa. Dua itu membawa sepaket rasa rasa. Bermacam, mengejutkan - tidak mengejutkan.
Tempat kerja dan kekasih seperti gerakan tangan yg diayun dengan percepatan positif dari haluan terjauh lengan menuju pipi terdekat dalam haluan itu. Ditampar.
Dan sakit dan baru sadar kalau ada yang salah.
Sampai minggu lalu aku masih melabeli diri dg kata depresi dan bahkan membulatkan niat utk konseling pada psikolog. Mencari tahu apa yang salah.
Kurang liburan? Tidak. Terbukti aku masih pusing setelah liburan menyenangkan di Malang.
Kurang bersyukur? Mungkin tidak mungkin iya.
Mungkin memang kurang musyawarah sama Yang Memberi Hidup.
Sepertinya memang terlalu melelahkan memutuskan segalanya sendiri.
Beberapa jam yang lalu aku masih di rumah. Kemarin aku sempatkan mengunjungi mbah uti dan mbah oyo yg semakin tua. Mbah Uti makin kurus. Mbah Oyo makin pikun. Pas mau pamit pulang, pas salim sama mbah Oyo yg sekarang lebih banyak tiduran, mbah tanya : rila sekolah kelas berapa? Sudah kerja, mbah. Oo kerja, dimana? Surabaya. Apa, kerja apa? PLN. Lalu no words aja gitu mbah senyum terus entah ada apa di mata beliau. Aku gak kuat dan cuma bisa bilang.. Mbah, Rila bawa roti itu mbah buat cemilan.
Dan di situ aku ingat. Seiring waktu satu tahun kerja. Aku datang dan cm bawa roti ke sana. Satu tahun bekerja dan saat itu aku ingat bahwa selama ini aku meleset terlalu jauh dari niat awal bekerja. Dan itu rupanya yang salah.
Dan itu yang aku rasakan menjadi penyebab sakit dan lemah selama ini. Dikit dikit males, dikit dikit gak semangat.
Pulang. Selalu memberi pelajaran yang mahal. Selalu jadi pengingat. Bahwa pulang adalah obat. Pulang adalah jawaban.
Maka jam ini aku sudah di Surabaya. Bersiap menata dan kembali ke rute awalku. Bismillah, semoga selalu ada kesabaran di hati dan kelapangan cara berpikir. Amin.
Mohon maaf curhat malam2, silahkan di-skip dan selamat tidur.
Sabtu, 15 Agustus 2015
Dipta.
Laki laki yang membuat tidak bisa berhenti.
Dipta, sang pemimpi.
Dipta yang entahlah, apa yang ada pada dia dan membuat aku
jatuh hati.
Selalu ku katakan, hanya pada dia aku merasa dicintai. Hanya
pada dia aku merasa sungguh didengar. Hanya pada dia aku merasa nyata atas
suatu yang fana.
Aku bilang aku sungguh didengar olehnya. Aku suka bercerita
kepadanya. Sama seperti perempuan lain, aku pun tak ingin solusi. Aku sungguh
hanya ingin didengar. Ah mungkin tak sesederhana itu.
Aku suka caranya menatapku bercerita. Pada lentik bulu
matanya. Pada lembut pipinya. Pada rambut yang melingkari setengah telinganya. Pada
bibir bulat yang dari sana aku dapatkan kecupan yang mendebarkan. Dan tentu
saja, pada tatapan sayu yang entah mengapa kadang aku membencinya.
Tapi tatapan itu lah yang selalu berhasil menjadi obat
penenangku. Ke dalam situ lah aku tenggelam. Sungguh dalam. Sungguh.
Kasih. Tak sekalipun aku berhasil mengambilnya kembali dari
dia. Dipta, kekasihku. Kekasih yang hanya kepadanya aku merasakan kebodohan. Oh
bagaimana mungkin di saat yang bersamaan otak ini mengingat segala hal yang
bisa menjadi alasan kuat aku meninggalkannya, namun justru tubuhku makin erat
mendekapnya.
Kasih. Aku mengasihinya. Dengarkah kau Dipta, sungguh aku
mengasihi kamu.
Bahkan di saat kamu sedang membangun kebencian yang teramat
sangat terhadapku. Bahkan di saat aku mulai menyadari bahwa sejak awal
sebenarnya kamu tak sungguh-sungguh mendengarkan aku.
Ya, Dipta. Kamu adalah lelaki yang membuat tidak bisa
berhenti.
Maka seperti candu itu lah yang memaksa tubuhku menjauhimu. kuhentikan ketergantunganku pada rasa aman saling berkabar dengan kamu. Ku hentikan teduh matamu menatapku. Ku hentikan lirih suaramu merasuki liang telingaku yang kerap entah mengapa ; membuat perutku tiba tiba geli oleh cairan atau entahlah.
Dan seperti pecandu kebanyakan. Aku berhenti dari kamu, dan aku sakit. Sekali.
12/8/2015
Kamis, 01 Januari 2015
Butuh Liburan
Kadang pikiran memang suka mengajak kepada hal yang aneh. Aku suka pekerjaanku sekarang. Aku mensyukuri apa yang aku dapat sekarang. Bahkan kadang masih tidak percaya bisa bekerja selang 4 bulan lulus kuliah.
Tapi seperti biasa, manusia punya rasa bosan. Dan inilah salah satu jenis percakapan yang terjadi ketika aku bosan dan butuh liburan bersama teman teman.
Tapi seperti biasa, manusia punya rasa bosan. Dan inilah salah satu jenis percakapan yang terjadi ketika aku bosan dan butuh liburan bersama teman teman.
Langganan:
Postingan (Atom)