Senin, 31 Agustus 2015

Cerita Lelah Sekian Hari

Pulang.
Memberi makan untuk hati. Entah ketahananku terhadap stress yang menurun atau memang badainya terlalu kuat.
Maka aku pulang.
24 tahun. 24 tahun dan aku baru menyadari bahwa hidupku - berantakan. Oh bukan. Caraku menjalankan hidup - yang berantakan.
Genap setahun bekerja. Mungkin mereka pikir aku baik-baik saja. Tak sedikit yang memberi selamat atas identitas baru yg aku sandang, dg cepat? 4 bulan sejak kelulusan. Relatif ku pikir. Ku syukuri dan kunikmati saja pujian orang.
Entahlah bagaimana menuturkannya. Sepertinya harus aku awali dg pemahaman umum bahwa : semua orang bermasalah.
Semua orang bermasalah. Dan aku, merasa dibodohi oleh kesalahan kecil yg selalu aku abaikan. Tidak menata caraku menjalankan hidup.
Ku pikir baik-baik saja hidup spontan dan bergantung pada keberuntungan.
Lalu pelan pelan.. Lamat lamat, aku menyadari ada yang salah.
Satu persatu hal yg aku lakukan terasa keliru. Kepercayaan terhadap aku - keseluruhan diri : tubuh pikiran tindakan hati, hilang.
Dan rupanya itu hilang pelan2. Rasanya seperti pegang botol minum yg bocor dan tidak disadari. Lalu tepat saat haus, airnya mau habis.
Yah! Kecewa.
Mungkin semua akan bilang kalau perpindahan  antara jiwa mahasiswa dan jiwa karyawan itu memang butuh waktu. Ya. Tapi satu tahun ini aku melihat banyak yg sudah matang dg start yang sama. Ya, setiap orang punya speed yg berbeda. Tapi masalahnya bukan mereka dg speednya. Tapi masalah ada pada aku, dan yg lebih parah, aku nggak tau apa yang salah. Sungguh itu nggak nyaman.
Lalu ketidaknyamanan itu mengantarku makin dekat pada sayu mata kekasihku. Kekasih yang selalu aku tinggalkan saat aku ingin mencapai sesuatu. Dan selalu aku renggut kembali dia saat aku butuh bahu dan matanya yang sayu. Tapi, hubungan kami buntu. Masalahnya satu : tak ada restu, bukan cuma dari orangtua tapi dari semua orang yg tahu kami bersama. Hubungan tidak sehat selama 4 tahun, ku akhiri juga. Kali ini tampaknya sungguhan.
24 tahun dan kami tidak membaik. 24 tahun dan sedikit lagi aku 25. Padahal kadang aku nggak sadar makna angka itu. Sering sekali melakukan hal tolol dan mengira bahwa aku baru 13-15 atau 19 tahun.
Tempat kerja dan kekasih. Dua hal yg menjadi pusat gravitasi. Dan dari situ aku mendapati kesulitanku. Tampaknya kata tempat kerja dan kata kekasih maknanya memang diperuntukkan bagi orang dewasa. Dua itu membawa sepaket rasa rasa. Bermacam, mengejutkan - tidak mengejutkan.
Tempat kerja dan kekasih seperti gerakan tangan yg diayun dengan percepatan positif dari haluan terjauh lengan menuju pipi terdekat dalam haluan itu. Ditampar.
Dan sakit dan baru sadar kalau ada yang salah.
Sampai minggu lalu aku masih melabeli diri dg kata depresi dan bahkan membulatkan niat utk konseling pada psikolog. Mencari tahu apa yang salah.
Kurang liburan? Tidak. Terbukti aku masih pusing setelah liburan menyenangkan di Malang.
Kurang bersyukur? Mungkin tidak mungkin iya.
Mungkin memang kurang musyawarah sama Yang Memberi Hidup.
Sepertinya memang terlalu melelahkan memutuskan segalanya sendiri.
Beberapa jam yang lalu aku masih di rumah. Kemarin aku sempatkan mengunjungi mbah uti dan mbah oyo yg semakin tua. Mbah Uti makin kurus. Mbah Oyo makin pikun. Pas mau pamit pulang, pas salim sama mbah Oyo yg sekarang lebih banyak tiduran, mbah tanya : rila sekolah kelas berapa? Sudah kerja, mbah. Oo kerja, dimana? Surabaya. Apa, kerja apa? PLN. Lalu no words aja gitu mbah senyum terus entah ada apa di mata beliau. Aku gak kuat dan cuma bisa bilang.. Mbah, Rila bawa roti itu mbah buat cemilan.
Dan di situ aku ingat. Seiring waktu satu tahun kerja. Aku datang dan cm bawa roti ke sana. Satu tahun bekerja dan saat itu aku ingat bahwa selama ini aku meleset terlalu jauh dari niat awal bekerja. Dan itu rupanya yang salah.
Dan itu yang aku rasakan menjadi penyebab sakit dan lemah selama ini. Dikit dikit males, dikit dikit gak semangat.
Pulang. Selalu memberi pelajaran yang mahal. Selalu jadi pengingat. Bahwa pulang adalah obat. Pulang adalah jawaban.
Maka jam ini aku sudah di Surabaya. Bersiap menata dan kembali ke rute awalku. Bismillah, semoga selalu ada kesabaran di hati dan kelapangan cara berpikir. Amin.
Mohon maaf curhat malam2, silahkan di-skip dan selamat tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar