Dasar Jurnalistik : Menulis Softnews melalui Wawancara dengan Pekerja Sektor Informal
Memarkir Cita-Cita Para Penjaga Parkir
Keterbatasan tampaknya benar-benar menjadi penghalang bagi sebagian orang. Keterbatasan dalam mengenyam bangku pendidikan misalnya, seseorang terkadang harus rela mengiklaskan cita-citanya di masa kecil terkubur begitu saja karena ketidakmampuannya melanjutkan pendidikan. Tanpa bermaksud menjadikan pendidikan formal sebagai kunci utama seseorang untuk menggapai cita-citanya, namun, pendidikan tetaplah penting untuk mengantarkan individu ke dalam dunia kerja yang dicita-citakan.
Ali, seorang penjaga area parkir di sebuah minimarket di Surabaya contohnya. Pemuda berusia 28 tahun ini ketika kecil bercita-cita menjadi seorang polisi. Namun, keterbatasan biaya membuat dirinya harus mencukupkan pendidikannya hingga tingkat SMA. Ditemui disela-sela waktunya menjaga parkir, Ali bercerita bahwa setelah lulus SMA dirinya bekerja di sebuah pabrik mebel di Surabaya. “Lulus SMA saya langsung ikut kerja di pabrik mebel mbak, ada dua tahunan abis gitu pindah lagi ikut di percetakan. Di percetakan ndak lama-lama, saya ganti jaga parkir disini,” tutur Ali.
Bekerja sebagai penjaga parkir menjadi salah satu upaya Ali untuk membantu kebutuhan orang tuanya dan menyekolahkan adiknya yang saat ini duduk di bangku SMP. Dengan pendapatan rata-rata sehari sebesar Rp35.000,00 Ali merasa bersyukur karena dari pendapatan itulah dirinya dapat menyambung hidup. Kegiatan menjaga parkir telah ia jalani selama kurang lebih tiga tahun. Setiap hari sekitar pukul 9 pagi dirinya telah berada di depan minimarket yang berlokasi di jalan Srikana, Kelurahan Airlangga, Surabaya, dan baru kembali ke rumah pada pukul 10 malam. Terhitung Ali bekerja selama 12 jam, namun demikian, dirinya mengaku menikmati pekerjaannya ini karena tidak ada atasan yang memerintah serta tidak ada jadwal yang mengikat. “Kalo kerja gini lebih enak mbak dari pada ikut orang, disuruh suruh. Meskipun lama, terus bosen tapi ya santai,” pungkasnya.
Ketika ditanyakan mengenai cita-citanya sebagai seorang polisi, Ali menuturkan bahwa ketika dirinya baru lulus SMA Ali masih saja terbayang bayang mimpinya untuk menjadi polisi. Sempat pula mengikuti tes masuk, namun gagal sehingga dirinya memutuskan untuk melupakan cita-citanya dan beralih mencari pekerjaan. “Ya namanya hidup mbak, harus terus jalan. Cari kerjaan kan buat bantu orang tua juga. Sekarang biar adek saya aja yang sekolah, yaa syukur-syukur kalo bisa kuliah juga, ya,” terang pria yang diketahui berasal dari Bangkalan, Madura.
Tak jauh berbeda dengan Ali, Silvi, seorang penjaga parkir dari sebuah perusahaan jasa parkir profesional juga merasakan hal yang sama. Keinginannya untuk kuliah dan bekerja sebagai pegawai Bank perlahan tampaknya mulai memudar. Sejak dirinya lulus SMA dua tahun yang lalu, orang tua Silvi tak mampu membiayai putrinya untuk mengenyam bangku kuliah. “bapak kerja serabutan mbak, ibu ya cuma jualan. Kepengen sih kuliah, tapi nggak ada biaya,” aku Silvi.
Dituturkan oleh Silvi, awal ketika lulus SMA, dirinya tidak langsung bekerja. Sekitar enam bulan menganggur, akhirnya Silvi memutuskan untuk bekerja di pabrik kayu. Tak bertahan lama, dirinya lalu mengundurkan diri dan bekerja sebagai penjaga parkir. “Ya enak mbak jaga parkir, kerjanya ya cuma gini, nyatet mobil masuk. Paling ya kerasa bosen,“ tuturnya.
Dalam beberapa hal Silvi lebih beruntung jika dibandingkan dengan Ali. Sama-sama berprofesi sebagai penjaga parkir, namun sistem kerja mereka berbeda. Silvi yang bekerja dibawah naungan sebuah perusahaan mendapatkan upah sesuai UMR kota Surabaya, yakni Rp1.150.000,00 . disamping itu, jam kerja Silvi lebih terjadwal, yaitu 8 jam sehari. Ali sendiri yang bekerja selama 12 jam dalam satu hari rata-rata mendapatkan Rp35.000,00 sehingga pendapatannya sebulan berkisar Rp1.050.000,00. Tidak banyak perbedaan dari segi rupiah yang diterima, namun jam kerja yang harus ditempuh adalah 4 jam lebih lama.
Pekerjaan sebagai penjaga parkir tampaknya menjadi alternatif bagi Ali dan Silvi. Meskipun latar belakang pendidikan mereka tidak mampu membawa mereka pada pekerjaan yang mereka cita-citakan , namun mereka berusaha untuk tidak menganggur dan berpangku tangan. Orang-orang dengan semangat dan kemauan bekerja yang tinggi inilah kiranya yang membuat tingkat pengangguran di wilayah Jawa Timur menurun dari tahun ke tahun. Menurut catatan Badan Pusat Statistik Surabaya, jumlah pengangguran di Jawa Timur pada tahun 2009 sejumlah 1.033.512 orang, menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, 2008 yang mencapai angka 1.296.313 orang.
Sumber data : BPS Propinsi Jawa Timur, Sakernas dan Susenas tahun 2005-2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar