Minggu, 09 Oktober 2011

Belajar Mewarnai


Nangis senangis nangisnya. Bukan karena siapapun. Bukan karena merasa capek menjalani drama dalam hidup ini dimana aku harus menyesuaikan diri dengan orang-orang itu, dan segala suasana yang aku sendiri kadang justru terdiam, gak bisa apa-apa.

Diam. Gak jauh berbeda dengan mengikuti arus. Padahal, diam itu mengerdilkan semua kredibilitas yang sudah terbangun. Diam itu menghilangkan semua kesempatan, semua harapan. Diam itu membawa pada kebodohan.

Hujan pertama setelah kemarau panjang, Surabaya. Rasanya sengaja dikirim Tuhan. Mungkin Tuhan mau nunjukin kalo air mata ini gak seberapa dengan semua air hujan di detik saat aku merangkaikan kata-kata ini untuk diceritakan. Dengan semua penderitaan orang-orang bodoh lain di luar sana. Mereka yang jauh lebih menderita karena kebodohonnya sendiri.
Terus aku? Aku nggak mau jadi bodoh lagi, Tuhan. Itu nyakitin. Waktu aku cuma bisa diam, terbawa arus, menikmati semua perasaan dan keadaan yang tampak indah dan menyenangkan tersaji dihadapan mata. Aku terlalu buta dan rakus waktu itu. Licik. Dan waktu semua itu tiba-tiba ditarik, hilang sama sekali, rasanya tubuh ini nggak punya daya apa pun. Rasanya nggak punya jiwa untuk menggerakkan semua sendi. Tatapan kosong, otak mati.Gak tau harus kemana. Merasa gak punya tempat untuk kembali.

Tertawa, nangis, marah, senyum. Semua perasaan senang, semua perasaan sedih yang gak bisa dilepas, tertahan di otak  dan direndam dalam campuran hormon-hormon yang selalu berubah dan mempengaruhi perasaanku setiap hari.

Aku mau tidur aja. Tunggu beberapa jam lagi, trus pas aku udah bangun, hujan udah berhenti. Ya, udah berhenti.

Sekali lagi, diam itu menghilangkan semua kesempatan, semua harapan. Dan itu terjadi pelan-pelan, tanpa kamu sadar.


4 komentar: