Nikah. Pernikahan.
Buat kaum hawa, isu isu tentang pernikahan mungkin adalah tema yang paling menarik buat di bahas. Mulai dari permasalahan siapa calonnya kelak, konsep pernikahan seperti apa, sampai kehidupan pernikahan seperti apa yang diinginkan. Hampir semua perempuan memikirkannya. Ya, mereka merencanakan semuanya. Percayalah, paling tidak kami, perempuan perempuan itu sudah mengkonsepkan gambaran calon pasangan seperti apa yang ideal, rumah seperti apa yang akan ditinggali kelak, berapa anak yang akan dilahirkan dan mungkin sampai pada berapa jam porsi waktu yang akan dialokasikan untuk keluarga.
Saya sebagai salah satunya. Di usia hampir menginjak 22 tahun, saya mulai serius memikirkan konsep pernikahan. Saya salah satu yang memikirkan sampai ke detail merk mixer apa yang akan saya pakai untuk menyiapkan kue kue camilan yang akan aku siapkan setiap hari sabtu. Ya, buat dua orang anak dan jelas, untuk ayah mereka.
Sedikit menggelikan memang.
Tapi, dibalik merk mixer itu, saya sendiri sebenarnya masih ragu, pasangan seperti apa yang kelak akan menjadi pasangan saya. Pernikahan seperti apa, dan hubungan perasaan seperti apa yang akan mengikat kami kelak.
Hubungan perasaan.
Ya.. saya menanyakannya. Mungkin semua orang bermimpi untuk bisa jatuh cinta dan menikah dengan mereka yang dicintai.
Tapi, jatuh cinta sendiri saja adalah frase yang kompleks. Apa wujudnya? Bagaimana sampai mereka menyebut perasaan itu sebagai jatuh cinta? Apa yang mereka lakukan ketika jatuh cinta?
Mungkin, untuk menyebut sesuatu sebagai jatuh cinta memang tidak bisa digunakan pengertian umum dan persepsi bersama. Jatuh cinta itu ada di hati. Di perasaan dan di otak setiap orang yang mengatakan kalo mereka merasakannya. Mereka punya pengertiannya masing-masing.
Tuhan memang baik. Saya pun sempat diberi perasaan itu. Perasaan yang saya deskripsikan sebagai berikut :
- Selalu ingin bersama, melihat dan bersenang senang dengan mereka yang tercinta
- Sensasi butterflies in my tummy
- Deg degan setiap kali ketemu
- Berusaha melakukan yang terbaik buat mereka
- Perasaan yakin yang membuat saya menjadikan sosok yang saya cintai itu sebagai figur pasangan ideal di masa depan
Pikiran pikiran dan perasaan perasaan seperti itu sebenarnya menyenangkan.
Mau diakui atau tidak, perasaan jatuh cinta itu sempat saya rasakan ketika saya lebih kenal dan lebih dekat dengan teman satu kampus di malang dulu. Sang vokalis gendut play boy mata keranjang itu. Ya, dari dia saya mendapatkan definisi jatuh cinta versi saya sendiri. cuma sayangnya, sampai akhirnya kami harus menyudahi hubungan itu adalah karena ternyata, nggak ada overlapping share meaning soal apa yang saya rasakan dan apa yang dia rasakan.
Cerita jatuh cinta ini gak akan membahas jauh tentang hubungan hubungan yang sempat saya buat. Menurut saya, jatuh cinta itu pengalaman. Tapi belum tentu pengalaman itu yang membawa perempuan perempuan seperti saya ini ke pengalaman pernikahan. Secara singkat, saya bisa katakan bahwa tidak semua pernikahan di dilakukan atas dasar pengalaman jatuh cinta. Tidak semua mereka yang jatuh cinta lalu menikah bersama. Laki laki itu, dan perempuan itu, mereka saling jatuh cinta, hanya kadang, mereka nggak menikah bersama.
Harusnya orang memang gak bisa begitu saja mengaitkan dengan erat hubungan antara jatuh cinta dan pernikahan. Tapi bagaimanapun itu semua sudah terlanjur jadi mindset, stereotype, atau entah doktrin.
Padahal motivasi orang menikah itu berbeda beda.
Jatuh cinta salah satunya. Dijodohkan, tuntutan usia yang idealnya sudah berkeluarga, tuntutan lingkungan sosial, perkongsian bisnis, bahkan politik adalah motivasi lain orang menikah.
Saya mungkin adalah salah satu orang yang akan menikah, tapi tanpa motivasi jatuh cinta.
Menurut saya, ketika seseorang sudah jatuh cinta, mereka akan dikendalikan ego, perasaan superior, inferior, dependen, independen, power, pengorbanan dan entah segala kompleksitas perasaan perasaan itu. Mereka yang punya power adalah mereka yang lebih kuat menggunakan logikanya. Sedangkan yang powerless adalah mereka yang selalu jatuh cinta, selalu bertindak dengan perasaan ketakutan akan kehilangan dan penolakan.
Siapa sih yang gak bermimpi untuk menikah dengan orang yang dicintai?
Saya juga memimpikannya. Tapi itu bukan prioritas. Selama pasangan saya kelak bisa mencukupi kebutuhan saya lahir dan batin, menghormati hak hak saya dan keluarga, menjaga kehormatan pernikahan, menurut saya itu semua cukup. Mungkin saya tidak akan begitu peduli apakah pasangan saya itu mencintai saya atau tidak dan atau apakah saya sendiri mencintai pasangan saya atau tidak.
Pertanyaan pasti muncul. Kenapa saya tidak memprioritaskan untuk menikah dengan orang yang saya cintai dan atau mencintai saya?
Entahlah, mungkin karena saya terlalu mencintai diri saya sendiri dan keluarga saya dan mimpi mimpi saya.
Beberapa pengalaman jatuh cinta membuat saya belajar. Yah, mungkin ini cuma perihal waktu. Saya memang belum menemukan orang yang tepat. Orang yang kelak bisa membahagiakan saya, menjaga perasaan saya, mendukung saya mengejar mimpi mimpi saya, memperjuangkan saya dan bisa diterima oleh keluarga masing masing.
Meskipun begitu, saya sendiri masih berdoa, semoga Tuhan masih mau bermurah hati kepada saya, menghadiahi saya perasaan jatuh cinta kepada orang yang tepat dan di waktu yang tepat. Lalu ketika saya sudah bertemu orang itu, pola pikir saya ini berubah menjadi lebih optimis dan lebih manis.
Amin.
amin..
BalasHapusaaamiiin :)
Hapus