I used to write something sad, hopeless and unhappy thing.
Ya, mulai dari cerita sedih seputar nggak bisa move on sampe cerita soal kecewa sama diri sendiri dan apa pun itu.
Waktu terbukti membuat orang banyak belajar. Termasuk saya. Dalam rentang waktu itu, saya belajar untuk memaafkan diri saya dan berusaha untuk bahagia. Saya mengerjakan banyak hal yang membahagiakan. Bukan sesuatu yang obsesif, tamak, dan didasari atas rasa iri atau keinginan untuk menjadi superior. Simply because I do want to do that things.
Menjadi bahagia itu gampang gampang susah. Gampang kalau kita cukup bersyukur, cukup berusaha, dan cukup menyerahkan segala urusan ini sama Yang Maha Menguasai. Susah, kalau kita melakukan suatu hal hanya untuk kebanggaan dan ketinggian hati.
Kurang lebih selama satu tahun ini saya mulai membahagian diri saya. Sedikit egois memang, saya pergi jalan jalan, bersenang senang dengan teman-teman, saya banyak tertawa, saya menjalin hubungan, saya melakukan apapun sesuai dengan kapasitas saya. Saya tetap semangat pergi kuliah, meskipun di penghujung hari, jam jam luang banyak saya gunakan untuk tidur dan berhappy hour ataupun me time. Dari hari hari itu saya akhirnya punya beberapa teman baru, dunia pergaulan saya lebih lebar, saya punya pendapatan tambahan, saya bisa membeli apa saja yang saya inginkan, saya punya lelaki untuk bermanja-manja dan bersenang-senang. Bersyukur, saya tidak merasakan kekurangan sedikit pun.
Di rumah, saya punya mainan baru. Meisyah Anindhita Azzarin. Azrin, azza, zaza. Anak perempuan dari kakak perempuan saya. Ponakan pertama, cucu pertama, makhluk hidup lucu pertama di rumah. Buat saya, menuliskan kalimat kalimat tentang bayi lucu itu saja sudah bisa membuat saya senyum-senyum. Apa lagi ketemu langsung. Entah lah, mungkin adek azrin ngasih efek positif buat saya. Jarang sekali rasanya galau. Sekalinya badmood, tinggal putar saja video adek azrin lagi berenang, atau lagi teriak teriak. Lucu. Polos. Yap, bayi itu polos. Mereka gak punya perasaan-perasaan negatif yang biasanya ditemukan pada orang dewasa. Mereka belum mengenal apa itu iri, apa itu bangga sampai apa dan bagaimana obsesi mengendalikan mereka. Mereka cuma tahu apa itu lapar, dan siapa itu mama papa. Bayi itu, makhluk yang bisa bahagia sempurna, bisa tertawa lepas dan bisa menangis keras tanpa perlu menghisap sabu sabu biar nge fly atau pun menenggak sebotol minuman keras biar mabuk.
Tapi Tuhan itu memang adil. Semua faktor-faktor penyebab kebahagiaan itu tidak seterusnya diberikan. Satu persatu semua kadarnya dikurangi, bahkan dihilangkan.
Uang yang saya dapatkan dari kerja sampingan dalam sebuah penelitian di kampus, akhirnya habis juga. Lelaki yang dulu bisa jadi tempat bermanja manja dan bertukar pikiran lama-lama tidak menyenangkan dan tidak sejalan lagi. Teman-teman yang bisa diajak tertawa dan saling bully-membully sekarang sudah sibuk liburan sendiri sendiri. Adek Azrin pun, yang dulu selalu asyik buat digodain dan diajak gulung-gulung, sekarang sudah bisa protes dan sudah hobby main di baby walker. Gak gulung-gulung lagi.
Hidup itu dinamis dan seharusnya kita juga bisa dinamis menyikapi situasi yang terus berubah. Setiap orang statis, semua ingin bahagia. Seperti kata bapak saya, berdoa yang banyak, minta saja sama Tuhan. seperti bahagia. Minta lah perasaan bahagia. Karena seperti yang telah saya alami, meminta apa yang dicita-citakan sampai dengan meminta semua rezeki rezeki itu belum tentu bisa membahagiakan meskipun Tuhan sudah mengabulkannya. Believe me, mintalah perasaan bahagia. Karena waktu kamu tahu indeks prestasi semestermu anjlog harusnya kamu sedih. Tapi ajaibnya, saya tetap bahagia bahagia saja dengan angka IP yang anjlog itu. Aneh memang. Ya, bahagia itu kadang memang aneh, dan kadang gak masuk akal. Saya tahu hal itu, tapi saya tetap enjoy, dan tetap bahagia. Aneh. Ya, aneh. So, be happy, guys. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar